..selalu ada keajaiban-keajaiban kecil disetiap mimpi-mimpi besar..




2009/01/19

Mentari Bersinarlah...

Mentari bersinarlah terangilah jiwaku yang gelap ini, hangatkanlah hatiku yang dingin ini, dan keringkanlah cucianku...hehehe


banjir..banjir..banjir..

2008/12/22

Barat vs Indonesia

Jika nilai huruf-huruf ini kita anggap sbg:

A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26

Mari kita hitung sama-sama:

H A R D W O R K (kerja  keras)
8 1 18 4 23 15 18 11 = 98 point
K N O W L E D G E (pengetahuan)
11 14 15 23 14 5 4 7 5 = 96 point
L O B B Y I N G (pendekatan)
12 15 2 2 25 9 14 7 = 86 point
L U C K (keberuntungan)
12 21 3 11 = 47 point
G R A F T (korupsi)
7 18 1 6 20 = 52 point

Ternyata….semua nilai dari usaha-usaha kita diatas nggak bisa
mengalahkan yg satu ini:

A  T   T  I   T   U  D E  (sikap/tingkah laku)
1 20 20 9 20 21 4 5 = 100 point


tapi ini rumus yg berlaku di negeri barat sana!

Kalo di Indonesia, hitungannya begini:

G I G I H (hardwork)
7 9 7 9 8 = 40 point
I L M U (knowledge)
9 12 13 21 = 55 point
L O B I (lobbying)
12 15 2 9 = 38 point
M U J U R (luck)
13 21 10 21 18 = 83 point
S I K A P (Attitude)
19 9 11 1 16 = 46 point

K O R U P S I (Graft)
11 15 18 21 16 19 9 = 109 point!!!!!!!!!!!!


Jadi kalo di Indonesia yang paling penting itu bukan

ATTITUDE, tapi KORUPSI………..

ada komentar…????

2008/12/17

Akhirnya Makassar Bersinar Juga...

2008/12/12

Dimanakah dia? aku ingin menemuinya

Hatiku gundah memandang bulan yang menyinari bintang, jiwa ku melayang di nirwana sunyi, tak ada lagi awan yang dapat aku singgahi, aku hanya lah sekeping perak yang tak berarti,aku teridam dalam kesepian malam, suara burung hantu menjadi teman lamunan, tangan ku lemah jari terkulai dalam goresan, hanya kata yang dapat aku rangkai hiasan,tak ada lagi harapan dalam cinta, aku hanya mampu berharap tapi tak mampu berucap, biarkan cinta berjalan dalam keangkuhan, ku kan terdiam hingga cinta membungkus tubuhku,tak ada lagi cinta yang mampu menepi, hati tertutup akan cinta yang tak pasti, aku hanya mencari cinta suci, akan kah datang cinta sejati?? ku kan lebih bijak menyambut cinta yang datang, akan ku puja dalam impian walau semalam, ku kan rangkul dalam kesenangan, kapankah cinta menyapa diriku??

Terseyumlah..

Kisah di bawah ini adalah kisah yang saya dapat dari milis alumni Jerman, atau warga Indonesia yang bermukim atau pernah bermukim di sana.Demikian layak untuk dibaca eberapa menit, dan direnungkan seumur hidup.Sekedar untuk mengisi akhir pekan dengan renungan betapa indahnya "senyum" itu Saya adalah ibu dari tiga orang anak dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi.Sang Dosen sangat inspiratif, dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya.

Tugas terakhir yang diberikan ke para siswanya diberi nama "Smiling."Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan memberikan senyumnya kepada tiga orang asing yang ditemuinya dan mendokumentasikan reaksi mereka.Saya adalah seorang yang periang, mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang. Jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.Setelah menerima tugas tsb, saya bergegas menemui suami saya dan anak bungsu saya yang menunggu di taman di halaman kampus, untuk pergi kerestoran McDonald's yang berada di sekitar kampus. Pagi itu udaranya sangat dingin dan kering. Sewaktu suami saya akan masuk dalam antrian, saya menyela dan meminta agar dia saja yang menemani si Bungsu sambil mencari tempat duduk yang masih kosong.

Ketika saya sedang dalam antrian, menunggu untuk dilayani, mendadak setiap orang di sekitar kami bergerak menyingkir, dan bahkan orang yang semula antri dibelakang saya ikut menyingkir keluar dari antrian.Suatu perasaan panik menguasai diri saya, ketika berbalik dan melihat mengapa mereka semua pada menyingkir? Saat berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang cukup menyengat, ternyata tepat di belakang saya berdiri dua orang lelaki tunawisma yang sangat dekil! Saya bingung, dan tidak mampu bergerak sama sekali.Ketika saya menunduk, tanpa sengaja mata saya menatap laki-laki yang lebih pendek, yang berdiri lebih dekat dengan saya, dan ia sedang "tersenyum" kearah saya.Lelaki ini bermata biru, sorot matanya tajam, tapi juga memancarkan kasih sayang. Ia menatap kearah saya, seolah ia meminta agar saya dapat menerima 'kehadirannya' ditempat itu.

Ia menyapa "Good day!" sambil tetap tersenyum dan sembari menghitung beberapa koin yang disiapkan untuk membayar makanan yang akan dipesan.Secara spontan saya membalas senyumnya, dan seketika teringat oleh saya 'tugas' yang diberikan oleh dosen saya. Lelaki kedua sedang memainkan tangannya dengan gerakan aneh berdiri di belakang temannya. Saya segera menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental, dan lelaki dengan mata biru itu adalah "penolong"nya. Saya merasa sangat prihatin setelah mengetahui bahwa ternyata dalam antrian itu kini hanya tinggal saya bersama mereka,dan kami bertiga tiba2 saja sudah sampai didepan counter.

Ketika wanita muda di counter menanyakan kepada saya apa yang ingin saya pesan, saya persilahkan kedua lelaki ini untuk memesan duluan. Lelaki bermata biru segera memesan "Kopi saja, satu cangkir Nona." Ternyata dari koin yang terkumpul hanya itulah yang mampu dibeli oleh mereka (sudah menjadi aturan direstoran disini, jika ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh, maka orang harus membeli sesuatu). Dan tampaknya kedua orang ini hanya ingin menghangatkan badan. Tiba2 saja saya diserang oleh rasa iba yang membuat saya sempat terpaku beberapa saat, sambil mata saya mengikuti langkah mereka mencari tempat duduk yang jauh terpisah dari tamu2 lainnya, yang hampir semuanya sedang mengamati mereka. Pada saat yang bersamaan, saya baru menyadari bahwa saat itu semua mata di restoran itu juga sedang tertuju ke diri saya, dan pasti juga melihat semua 'tindakan' saya. Saya baru tersadar setelah petugas di counter itu menyapa saya untuk ketiga kalinya menanyakan apa yang ingin saya pesan. Saya tersenyum dan minta diberikan dua paket makan pagi (diluar pesanan saya) dalam nampan terpisah. Setelah membayar semua pesanan, saya minta bantuan petugas lain yang ada di counter itu untuk mengantarkan nampan pesanan saya ke meja/tempat duduk suami dan anak saya. Sementara saya membawa nampan lainnya berjalan melingkari sudut kearah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu untukberistirahat. Saya letakkan nampan berisi makanan itu di atas mejanya,dan meletakkan tangan saya di atas punggung telapak tangan dingin lelaki bemata biru itu, sambil saya berucap "makanan ini telah saya pesan untuk kalian berdua."Kembali mata biru itu menatap dalam ke arah saya, kini mata itu mulai basah ber-kaca2 dan dia hanya mampu berkata "Terima kasih banyak, nyonya."Saya mencoba tetap menguasai diri saya, sambil menepuk bahunya saya berkata "Sesungguhnya bukan saya yang melakukan ini untuk kalian, Tuhan juga berada di sekitar sini dan telah membisikkan sesuatu ketelinga saya untuk menyampaikan makanan ini kepada kalian." Mendengar ucapan saya, si Mata Biru tidak kuasa menahan haru dan memeluk lelaki kedua sambil terisak-isak. Saat itu ingin sekali saya merengkuh kedua lelaki itu.

Saya sudah tidak dapat menahan tangis ketika saya berjalan meninggalkan mereka dan bergabung dengan suami dan anak saya, yang tidak jauh dari tempat duduk mereka. Ketika saya duduk suami saya mencoba meredakan tangis saya sambil tersenyum dan berkata "Sekarang saya tahu, kenapa Tuhan mengirimkan dirimu menjadi istriku, yang pasti, untuk memberikan 'keteduhan' bagi diriku dan anak-2ku! "Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan saat itu kami benar2 bersyukur dan zenyadari,bahwa hanya karena 'bisikanNYA' lah kami telah mampu memanfaatkan 'kesempatan' untuk dapat berbuat sesuatu bagi orang lain yang sedang sangat membutuhkan. Ketika kami sedang menyantap makanan, dimulai dari tamu yang akanmeninggalkan restoran dan disusul oleh beberapa tamu lainnya, mereka satu persatu menghampiri meja kami, untuk sekedar ingin 'berjabat tangan' dengan kami. Salah satu diantaranya, seorang bapak, memegangi tangan saya, dan berucap "Tanganmu ini telah memberikan pelajaran yang mahal bagi kami semua yang berada disini, jika suatu saat saya diberi kesempatan olehNYA, saya akan lakukan seperti yang telah kamu contohkan tadi kepada kami." Saya hanya bisa berucap "terimakasih" sambil tersenyum. Sebelum beranjak meninggalkan restoran saya sempatkan untuk melihat kearah kedua lelaki itu, dan seolah ada 'magnit' yang menghubungkan bathin kami, mereka langsung menoleh kearah kami sambil tersenyum, lalu melambai-2kan tangannya kearah kami.

Dalam perjalanan pulang saya merenungkan kembali apa yang telah saya lakukan terhadap kedua orang tunawisma tadi, itu benar2 'tindakan' yang tidak pernah terpikir oleh saya. Pengalaman hari itu menunjukkan kepada saya betapa 'kasih sayang' Tuhan itu sangat HANGAT dan INDAH sekali! Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah dengan 'cerita' ini ditangan saya. Saya menyerahkan 'paper' saya kepada dosen saya. Dan keesokan harinya, sebelum memulai kuliahnya saya dipanggil dosen saya ke depan kelas,ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkah saya membagikan ceritamu ini kepada yang lain?" dengan senang hati saya mengiyakan. Ketika akan memulai kuliahnya dia meminta perhatian dari kelas untuk membacakan paper saya. Ia mulai membaca, para siswapun mendengarkan dengan seksama cerita sang dosen, dan ruangan kuliah menjadi sunyi. Dengan cara dan gaya yang dimiliki sang dosen dalam membawakan ceritanya, membuat para siswa yang hadir di ruang kuliah itu seolah ikut melihat bagaimana sesungguhnya kejadian itu berlangsung, sehingga para siswi yang duduk di deretan belakang didekat saya diantaranya datang memeluk saya untuk mengungkapkan perasaan harunya.

Diakhir pembacaan paper tersebut, sang dosen sengaja menutup ceritanya dengan mengutip salah satu kalimat yang saya tulis diakhir paper saya. "Tersenyumlah dengan 'HATImu', dan kau akan mengetahui betapa 'dahsyat' dampak yang ditimbulkan oleh senyummu itu." Dengan caraNYA sendiri, Tuhan telah 'menggunakan' diri saya untuk menyentuh orang-orang yang ada di McDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap siswa yang menghadiri kuliah di malam terakhir saya sebagai mahasiswi. Saya lulus dengan 1 pelajaran terbesar yang tidak pernah saya dapatkan di bangku kuliah manapun, yaitu: "PENERIMAAN TANPA SYARAT."

Banyak cerita tentang kasih sayang yang ditulis untuk bisa diresapi oleh para pembacanya, namun bagi siapa saja yang sempat membaca dan memaknai cerita ini diharapkan dapat mengambil pelajaran bagaimana cara MENCINTAI SESAMA, DENGAN MEMANFAATKAN SEDIKIT HARTA-BENDA YANG KITA MILIKI, dan ukannya MENCINTAI HARTA-BENDA YANG BUKAN MILIK KITA, DENGAN MEMANFAATKAN SESAMA!

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh hati anda, teruskan cerita ini kepada orang2 terdekat anda. Disini ada 'malaikat' yang akan menyertai anda, agar setidaknya orang yang membaca cerita ini akan tergerak hatinya untuk bisa berbuat sesuatu (sekecil apapun) bagi sesama yang sedang membutuhkan uluran tangannya! Orang bijak mengatakan: Banyak orang yang datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya 'sahabat yang bijak' yang akan meninggalkan JEJAK di dalam hatimu. Untuk berinteraksi dengan dirimu, gunakan nalarmu. Tetapi untuk berinteraksi dengan orang lain, gunakan HATImu! Orang yang kehilangan uang, akan kehilangan banyak, orang yang kehilangan teman, akan kehilangan lebih banyak! Tapi orang yang kehilangan keyakinan, akan kehilangan semuanya!

Tuhan menjamin akan memberikan kepada setiap hewan makanan bagi mereka, tetapi DIA tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka, hewan itu tetap harus BERIKHTIAR untuk bisa mendapatkannya. Orang-orang muda yang 'cantik' adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang 'cantik' adalah hasil karya seni. Belajarlah dari PENGALAMAN MEREKA, karena engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk bisa mendapatkan semua itu dari pengalaman dirimu sendiri.

So..terseyumlah kawan..!!!

2008/11/19

Revolusi Cinta

“The Lost City”
Drama Keluarga, Kisah Cinta, dan Revolusi Kuba



Revolusi Kuba yang dimotori Fidel Castro dan Che Guevara pada 1950-an menjadi latar belakang film panjang arahan sutradara yang juga seorang aktor, Andy Garcia, The Lost City. Guillermo Cabrera Infante yang menulis The Three Tigres, novel yang mengilhami film ini, juga menuliskan skenario untuk Garcia.
Revolusi Kuba hanyalah sebagai latar belakang sebuah kisah drama keluarga dan percintaan di keluarga Fellove. Adalah Fico (Andy Garcia), anak tertua di keluarga itu, yang menjadi fokus penceritaan. Ia seorang pemilik kabaret sekaligus kelab malam El Tropico di ibu kota Havana. Dua saudaranya sangat berbeda. Ricardo (Enrique Murciano) dan Luis (Nestor Carbonell) merupakan Fidelista, pejuang revolusi pengikut Fidel Castro.
Havana, sebelum tahun 1958 mendapat julukan Paris of the Carribean, dengan sinar matahari di siang hari dan musik dari kelab di malam hari. Bahkan, kota ini menjadi salah satu yang menginspirasi para desainer Amerika dan Eropa. Namun, di antara kedamaian itu, kelompok pemberontak yang dipimpin Fidel menjalankan gerakan bawah tanah.
Keadaan Havana yang begitu bertolak belakang itu digambarkan di awal film. Dua orang memasuki sebuah restoran, tanpa beban ia menembak seorang pengunjung. Ini adalah sebuah ketakutan bagi sebagian orang di kota itu. Lepas dari adegan itu, kemeriahan kelab malam dengan penari kabaret yang glamor dimunculkan, sebuah gambaran kota yang seakan tanpa masalah.

Sejarah dan Drama
Meskipun sarat peristiwa sejarah dengan tokoh-tokoh melegenda, film ini sebenarnya hanya mengisahkan drama keluarga yang amat tragis pasca-Revolusi Kuba 1959. Federico (Thomas Millian), ayah Fico, memiliki sebuah tradisi makan bersama di hari Minggu, tepat pukul enam. Ketiga anaknya, dengan dua menantu, selalu hadir. Gambaran perubahan juga dimunculkan melalui tradisi ini ketika perlahan-lahan putra-putranya mulai menghilang satu per satu.
Film produksi CineSon, rumah produksi milik Andy Garcia, ini tergolong panjang. Dengan durasi 143 menit, Andy bukan saja menggambarkan Revolusi Kuba dari dua sisi, sebuah keluarga biasa dan para pemimpin revolusi. Che Guevara (Jsu Garcia) dan Fidel Castro sempat dimunculkan meskipun tidak utuh. Guevara yang mengilhami banyak orang di seluruh dunia digambarkan sebagai seseorang yang tidak simpatik dengan ledekan yang selalu keluar dari mulutnya. Bukan hanya Guevara, Fulgencio Batista (Juan Fernandez), digambarkan seperti seorang pelawak dengan hal-hal tidak penting yang sering diperbuatnya.
Ketika Luis akhirnya tewas terbunuh pascaserangan istana presiden, sebuah cerita baru dimunculkan. Kisah ini bukan hanya drama keluarga yang menjadi penggambaran Revolusi Kuba dalam skala kecil. Kisah cinta Fico dengan janda mendiang adiknya Luis, Aurora (Ines Sastre), menjadi bagian penting dari cerita film yang juga memunculkan aktor Dustin Hoffman ini.
Cinta mereka bukannya ahistoris. Luis sendiri mengetahui bahwa di hati istrinya hanya ada Fico dan demikian pula sebaliknya. Andaikan Aurora menjadi perempuan biasa, berakhirlah kisah ini dengan kebahagiaan. Namun, sejak kematian Luis, Aurora bertekad menjadi bagian dari kelompok revolusi itu dalam memimpin Kuba.
Di antara kisah cinta Fico dan Aurora yang dibuat rumit, Garcia tetap menggambarkan Kuba pascarevolusi. Fidel yang seorang sosialis menjalankan negara dengan perubahan yang mengejutkan.
Fico dan kelab malamnya menjadi gambaran utuh dari perubahan-perubahan yang diterapkan Fidel. Tiba-tiba kegiatan berkesenian dikontrol pemerintah, alat musik dari negeri imperialis dilarang yang akhirnya berujung pada pelarangan seluruh unsur di kelab malam. Di situlah puncak imigrasi warga Kuba ke New York, demi mencari kebebasan berekspresi.
Andy Garcia yang kelahiran Havana ini mulai memikirkan proyek ini sejak 16 tahun silam. Budaya Kuba yang ia munculkan begitu kental.
Musik yang ia gunakan, lebih dari 40 komposisi, semuanya menggambarkan Kuba. Ada mambo, cha cha cha, dan rumba, dan bunyi-bunyian yang dihasilkan santeria yang menggambarkan kemeriahan kelab malam Havana sebelum revolusi.

2008/09/20

jumpa lagi...

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..
Dengan kata yang tak dapat diucapkan kayu kepada api
yang menjadikannya abu..
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana..
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan
yang menjadikannya tiada...